Minggu, 22 Januari 2023

Laporan Praktikum Pembuatan Tempe



Oleh:

Alif Sulthan (3)

Donanda Septian Putra (12)

Ikhlas Hanif Nitisara (17)

Muhammad Ikhwan Rizqi (25)

Muhammad Nur Fauzan (26)

Nurcahyo Bagus Prasetyo (28)

XII MIPA 1

 

Tahun Ajaran 2022/2023


 Kata Pengantar


Pertama-tama, mari kita panjatkan puji serta syukur terhadap Allah SWT, karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menulis dan menyelesaikan laporan ini dengan waktu yang tepat tanpa adanya halangan. Shalawat serta salamnya semoga tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya dan para sahabatnya, dan juga kepada kita semua selaku umatnya yang insyaAllah selalu mengikuti ajarannya.

Laporan praktikum ini merupakan hasil penelitian kami dan merupakan salah satu persyaratan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran yaitu biologi di SMAN 49 Jakarta

  Kami dari kelompok menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini, dan jauh dari sempurna, hal itu dikarenakan keterbatasan yang kami miliki, oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi. Akhirnya kepada Allah lah penulis pasrahkan semua,karena kebenaran hanyalah milik-Nya.

Semoga laporan ini bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca sekalian, terutama untuk kelas XII MIPA 1.


Jakarta, 16 Januari 2023

    Kelompok Tempe








BAB I

PENDAHULUAN


  1. Latar Belakang

Indonesia dikenal dengan negara yang memiliki keberagaman ras, suku, dan budaya, hal ini jugalah yang membuat Indonesia memiliki beragam makanan yang berasal dari masing masing daerah. Namun, pada topik kali ini kita akan membahas tentang salah satu makanan ikonik asal Indonesia yang keberadannnya sudah ada dari dahulu dan menjadi salah satu makanan pokok yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia yaitu tempe.

Tempe merupakan salah satu makanan tradisional yang sangat populer di Indonesia bahkan digemari oleh Masyarakat. Tidak hanya masyarakat Indonesia saja, tempe kini sudah menjamur ke luar negeri bahkan sudah terkenal sampai ke Eropa. Hal ini tidak lain karena rasanya yang enak, harga yang murah serta memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Bahan pokok tempe ini menggunakan kacang-kacangan, seperti kacang tanah kedelai dan dapat pula menggunakan biji lamtoro. Namun yang paling sering digunakan ialah kacang kedelai.

Dilihat dari proses pembuatan, tempe tergolong sebagai salah satu produk Bioteknologi berbasis konvensional, hal ini karena pembuatan tempe diolah menggunakan ragi dan dapat dibuat tanpa menggunakan peralatan modern yang canggih.

Oleh karena itu, maka dalam laporan praktikum kali ini kami akan menjelaskan tentang cara membuat tempe yang merupakan salah satu produk bioteknologi berbasis konvensional.





  1. Tujuan Praktikum

  • Untuk mengetahui cara membuat salah satu produk bioteknologi konvensional yaitu tempe

  • Untuk mengetahui proses fermentasi pada tempe dan mendemonstrasikan cara membuat tempe

  • Mengetahui peran mikroorganisme ragi yaitu Rhizopus Oryzae dalam proses pembuatan tempe


  1. Manfaat

Mengetahui cara membuat tempe dengan baik dan benar serta menambah wawasan tentang tempe yang merupakan produk bioteknologi konvensional.
















BAB II

PEMBAHASAN


  1. Landasan Teori

  1. Bioteknologi

Secara umum, bioteknologi adalah ilmu biologi yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup, seperti bakteri, virus, dan fungi untuk menghasilkan barang atau jasa yang bisa digunakan oleh manusia. Adapun contoh bioteknologi di bidang pangan, yaitu pembuatan bir, roti, keju, dan bahan makanan lainnya.

  1. Fermentasi

Fermentasi adalah proses perubahan kimia oleh mikroorganisme melalui hasil aktivitas enzim yang dihasilkan. Proses ini sudah banyak dipakai, termasuk dalam bioteknologi konvensional. Fermentasi pada tempe terjadi karena jamur Rhizopus oryzae. Pada proses fermentasi tempe, jamur itu akan berkembang biak dan membentuk hifa dan miselium kapang yang mengikat satu kedelai dengan yang lain.

  1. Kedelai

Kedelai (Glycine max) termasuk ke dalam famili Leguminoceae, subfamilia Papilionaceae, genus Glycine max , berasal dari jenis kedelai liar yang disebut Glycine unriensis. Kedelai populer di kalangan bioteknologi dan sering diolah melalui proses fermentasi. Salah satu produk yang bisa dibuat dari kedelai adalah tempe.

  1. Tempe

Tempe merupakan produk bioteknologi konvensional yang melibatkan proses fermentasi terhadap kedelai. Faktor terpenting dalam pembuatan tempe adalah ragi yang mengandung jamur Rhizopus sp. Jenis jamur yang berperan dalam fermentasi tempe adalah Rhizopus oryzae. Inokulum tempe digunakan sebagai agensia pengubah kedelai yang telah mengalami proses perebusan dan perendaman menjadi tempe.

  1. Tahap Pengolahan Tempe

Untuk menghasilkan tempe, kedelai perlu diolah melalui beberapa tahap, yaitu perendaman, perebusan ke-1, pengupasan, perendaman dan pengasaman, perebusan ke 2, pematusan air, inokulasi menggunakan ragi tempe, pembungkusan dan fermentasi. Dalam tahapannya, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas tempe yang dihasilkan. Faktor-faktor tersebut antara lain: proses perebusan, kadar air dalam kedelai, kelembaban, suhu, durasi fermentasi, dan jenis bahan pembungkus fermentasi.


  1. Ragi

Ragi berperan penting dalam proses fermentasi kedelai menjadi tempe yang siap masak. Ragi mengandung  mikroorganisme yang berasal dari jenis Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, dan Rhizopus stolonifer. Ragi ini adalah pemeran yang akan membentuk tempe dengan benang miselium yang terjalin menyelingkupi kedelai. Miselium terbentuk dari kumpulan hifa, yaitu struktur jamur berupa lembaran-lembaran halus serupa benang. 


2. Metode Penelitian

  1. Alat dan Bahan

  • 1 Kg Kedelai

  • Ragi sesuai takaran 1 Kg Kedelai

  • Baskom

  • Saringan

  • Plastik

  • Nampan

  • Lilin

  • Korek api

  • Panci

  • Ember


  1. Langkah Kerja

  1. Rendam 1 Kg keledai semalaman.

  2. Bilas kedelai selama 2-3 kali atau hingga bersih.

  3. Rebus dengan perbandingan kedelai dan air 1:3 di atas api sedang selama sekitar 1 jam. Angkat.

  4. Bilas kedelai dengan air mengalir sembari pisahkan kacang kedelai dari kulit arinya. Lakukan proses membilas ini sambil meremas kacang kedelai supaya kulit arinya terlepas. 

  5. Rendam kacang kedelai kembali selama 2×24 jam.

  6. Bilas kedelai yang sudah direndam dengan air mengalir. 

  7. Kukus dalam dandang panas hingga matang selama sekitar 40 menit. Angkat, lalu tiriskan kedelai kukus di atas tampah sambil dikipas untuk mempercepat penguapan. Diamkan hingga kedelai kering.

  8. Tambahkan ragi pada kedelai yang tengah dikeringkan di atas tampah sesuai dengan takaran.

  9. Aduk rata agar ragi tersebar rata.

  10. Bungkuslah kedelai dalam plastik. Kemudian, tutuplah plastiknya dengan melipat plastiknya dan dekatkan lipatan itu kepada lilin yang menyala agar tertutup rapat.

  11. Tusuk bungkusan kedelai dengan garpu atau tusuk gigi agar ada udara memasuki kedelai.

  12. Hasil cara membuat tempe kini siap untuk diolah dan diletakkan di atas talenan di atas meja kayu.

  13. Simpan tempe dalam suhu ruang selama sekitar 36 jam. Tempe siap diolah.


3. Hasil Pengamatan


No

Hari ke-

Perkembangan

1

1

Miselium atau jamur yang dihasilkan masih tipis dan tidak rata.

2

2

Miselium atau jamur yang dihasilkan mulai menebal tapi belum merata.

3

3

Miselium atau jamur yang dihasilkan tebal namun terdapat beberapa yang belum rata.


4. Analisis dan Pembahasan

Dalam praktikum ini, pembuatan tempe dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu perendaman, perebusan ke-1, pengupasan, perendaman dan pengasaman, perebusan ke 2, pematusan air, inokulasi menggunakan ragi tempe, pembungkusan dan fermentasi.


Perendaman selama beberapa kali dimaksudkan untuk melunakkan struktur selular kedelai sehingga mudah dikupas kulitnya. Selain itu, perendaman ini mengakibatkan pengembangan biji kedelai karena adanya penyerapan air oleh biji kedelai secara osmotik. Proses perendaman memberi kesempatan pertumbuhan bakteri-bakteri asam laktat (BAL) sehingga terjadi penurunan pH dalam biji menjadi sekitar 4,5 – 5,3. Penurunan pH dapat menghambat pertumbuhan bakteri-bakteri kontaminan yang bersifat pembusuk.

Perebusan tempe bertujuan sebagai proses hidrasi, yaitu penyerapan air sebanyak mungkin ke dalam biji kedelai sekaligus untuk memudahkan proses selanjutnya yaitu pengupasan kulit kedelai. Perebusan dan perendaman memiliki fungsi yang hampir sama, tetapi proses pemanasan atau perebusan biji setelah perendaman bertujuan untuk membunuh bakteri kontaminan dan membantu membebaskan senyawa-senyawa dalam biji yang diperlukan untuk pertumbuhan jamur yang akan berperan penting dalam fermentasi tempe nantinya.


Pengupasan kulit tempe dilakukan dengan meremas biji kedelai yang sudah melalui tahapan perendaman dan perebusan. Pengupasan kulit ini bertujuan untuk memudahkan miselium jamur sebagai agen fermentasi tempe agar dapat menembus ke dalam kedelai. 

Kemudian dilakukan pencucian dan perendaman kembali dalam air pada suhu kamar selama 22-24 jam. Tahap perendaman ini bertujuan agar bakteri asam laktat (BAL) dapat tumbuh secara alami sehingga diperoleh kondisi asam yang sesuai dengan kondisi pertumbuhan jamur tempe.


Inokulasi menggunakan ragi dilakukan dengan menaburkan ragi pada kedelai yang sudah dikeringkan. Tujuan dari inokulasi adalah menciptakan tempe dari biji kedelai dengan mengandalkan pengikatan miselium jamur untuk mengikat satu biji dengan yang lainnya dalam satu bungkus plastik. Kemudian, pembungkusan dilakukan dengan memasukkan biji kedelai yang sudah ditaburkan ragi ke dalam plastik, kemudian ditutup dengan membakar sedikit bagian lipatan plastik. Setelah itu, bungkusan plastik ditusuk menggunakan garpu. Ini dilakukan karena kapang tempe memerlukan banyak udara. Plastik ditusuk di beberapa tempat agar uap air yang terbentuk dalam proses peragian dapat menguap sehingga tempe yang dihasilkan membentuk padatan kompak berwarna putih dan tidak busuk. Tanpa udara, kapang tempe akan mati dan membuat tempe busuk.


Pada proses ini, terdapat kesalahan prosedur kerja yaitu penyebaran ragi yang kurang merata. Hal ini menyebabkan beberapa bungkus tempe di hari kedua dan hari ketiga masih belum terbentuk tempe yang berarti miselium masih belum mengikat biji-biji kedelai. Prosedur yang salah ini membawa konsekuensi berupa lambatnya perkembangan terbentuknya tempe.













BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pembuatan tempe merupakan salah satu penerapan bioteknologi konvensional yang melibatkan jamur Rhizopus sp. yang prosesnya itu sendiri secara umum melalui beberapa tahap, yaitu perendaman, perebusan ke-1, pengupasan, perendaman dan pengasaman, perebusan ke 2, pematusan air, inokulasi menggunakan ragi tempe, pembungkusan dan fermentasi. Proses fermentasi tempe dapat dipengaruhi oleh penyebaran ragi yang harus merata agar memperoleh tempe dengan kualitas yang baik.



B. Saran

Dalam melakukan pembuatan tempe sebaiknya perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembuatan tempe seperti jumlah takaran ragi yang sesuai, kadar air, kualitas kacang kedelai, waktu dalam perebusan, dan lama waktu fermentasi serta pemerataan pemberian ragi pada kacang kedelai. 
















DAFTAR PUSTAKA


Pengertian bioteknologi

https://www.merdeka.com/jateng/mengenal-manfaat-bioteknologi-lengkap-beserta-jenis-dan-contohnya-kln.html

Definisi tempe (Hidayat et al. 2009) dan Tahap pengolahan tempe (Mujianto, 2013)

Fermentasi tempe

http://repository.unimus.ac.id/2717/6/BAB%20II.pdf

Referensi praktikum tempe secara keseluruhan

https://www.academia.edu/42737514/LAPORAN_PRAKTIKUM_PEMBUATAN_TEMPE

Perendaman tempe

https://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/7342/tekper-ismet%20suhadi2.pdf?sequence=2&isAllowed=y#:~:text=Perendaman%20dimaksudkan%20untuk%20melunakkan%20struktur,lama%20dapat%20mengurangi%20total%20padatan.

Analisis dan Pembahasan

https://kanalpengetahuan.tp.ugm.ac.id/menara-ilmu/2018/1321-peran-fermentasi-pada-tempe.html

http://eprints.ums.ac.id/5714/1/J_300_060_002.PDF


Konflik Berkelanjutan dalam Pesta Demokrasi

oleh: Muhammad Nur Fauzan


Pesta demokrasi merupakan kegiatan yang dilakukan 5 tahun sekali di Indonesia. Terhitung sejak Indonesia merdeka kita telah melakukan pemilu sebanyak 12 kali yaitu pada tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, 2009, 2014, dan 2019. Hal ini masih tetap berlanjut sampai sekarang. Perpecahan dalam pemilu diakibatkan perbedaan pendapat yang didasari pandangan orang yang berbeda. Hal ini selanjutnya akan menimbulkan Konflik berkelanjutan. Konflik dalam pesta demokrasi adalah pertikaian yang terjadi pada individu ataupun kelompok karena masing-masing diantaranya memiliki kepentingan yang berbeda atau masing-masing ingin menjadi pemenang dalam pemilihan. Hal ini yang selanjutnya menjadi latar belakang mengapa terjadi konflik dalam pesta demokrasi. Menurut Robbin (1996), dengan adanya konflik pada suatu kelompok dapat  disepakati dengan adanya pendapat yang berbeda dan kadang mereka tidak menyadari adanya konflik dalam kelompok. Dan ketika itu terjadi maka dianggap tidak terjadi konflik. Dan Sebaliknya ketika mereka menganggap bahwa terdapat konflik dalam suatu kelompok maka konflik tersebut dianggap benar-benar ada.


Partai politik adalah tempat untuk masyarakat yang ikut serta dan berpartisipasi dalam penataan Negara. Sebagai lembaga yang lembaga yang ikut serta mengurus penataan Negara partai politik tidak memiliki visi misi yang sama dengan partai politik lain sehingga perpecahan yang terdapat di negara dapat menjadi lebih besar akibat partai politik. Dalam kenyataannya konflik dalam pesta demokrasi itu sendiri tidak jauh kaitannya dengan partai politik. Tidak hanya partai politik, organisasi masyarakat juga menjadi sebuah sebab adanya konflik dalam pesta demokrasi. Sebagai contoh kejadian yang terjadi pada pemilihan kepala daerah di DKI Jakarta pada tahun 2017. Pada saat pemilihan yang terjadi tahun 2017, Ahok sebagai Gubernur saat itu mengucapkan perkataan yang dianggap sebagai bentuk penistaan agama dan mendapat hukuman dua tahun penjara. Hal ini selanjutnya menyulut emosi baik dari organisasi islam yang merasa agamanya dinistakan maupun pendukung ahok yang masih membela Ahok. Kemudian hal ini berlanjut sampai gubernur yang baru menjabat yaitu Anies Baswedan. Para pendukung ahok kemudian menyebutkan bahwa kemenangan yang didapat oleh Anies Baswedan kala itu karena ia mendapat bantuan dari organisasi islam yang menjatuhkan reputasi serta memenjarakan pak Ahok. Dari contoh nyata diatas didapat bahwa penyebab utamanya adalah kesalahan dari pengucapan dari Ahok dalam forum nya yang menistakan agama islam. Akan tetapi hal ini menyebabkan konflik yang masih dirasakan hingga saat ini. 


Konflik yang akhirnya berkelanjutan ini masih belum jelas dimana titik akhir nya. Persaingan partai politik sebagai pemegang pengatur kekuasaan lebih terasa sejak insiden pemilu tahun 2019. Insiden tersebut kemudian menyebabkan masyarakat terbagi menjadi tiga kubu, yaitu kubu pemerintahan, kubu anti pemerintahan serta kubu netral. Penyebab adanya ketiga kubu tersebut di dapat dari banyak nya bukti yang kuat mengenai kecurangan yang terjadi oleh partai politik demi memenangkan pemilu. Ada juga faktor lainnya adalah pelaku utama dari kasus kecurangan ini yaitu Harun Masiku masih belum tertangkap sampai sekarang. Hal ini menyebabkan banyak nya kubu anti pemerintah sekarang. 


Perpecahan yang terjadi akibat kekuasaan dapat dilihat dari kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah itu sendiri. Sebagai contoh pada pemerintahan Anies Baswedan, kawasan Monas mengalami pembangunan ulang yang sebelumnya berfungsi sebagai hutan kota kemudian mengalami revitalisasi untuk kemudian di bangun nya alun-alun dengan beralaskan beton. Walaupun pada saat itu pemerintah Jakarta menerima kritik keras, akan tetapi keputusan tersebut sudah mengalami persetujuan baik dari Gubernur maupun DPRD setempat. Hal ini kemudian menjadi masalah pada tahun 2023 yang mana disaat masa pemerintahan Anies Baswedan telah berakhir dan digantikan oleh PJ Gubernur Heru Budi Hartono, PJ Gubernur Heru Budi Hartono merombak ulang pembuatan yang telah selesai pada masa pemerintahan Anies Baswedan. PJ Gubernur Heru Budi Hartono kemudian bekerja sama dengan Menteri BUMN untuk membangun ulang hutan kota yang sebelumnya telah mengalami revitalisasi. Dari hal ini dapat dilihat bahwa pemerintahan Indonesia masih menyimpan praktik Politik Balas Dendam. Praktik politik balas dendam ini kemudian dinilai sebagai praktik kuno. "Praktik menang dengan segala cara dan tak mau mengakui kekalahan adalah bentuk politik purba yang meniadakan hakikat berbangsa dan bernegara serta konstitusi kita," kata Muradi, pengajar ilmu politik dan pemerintahan Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Praktik politik ini kemudian dapat  menjadi masalah pada politik kebangsaan di Negara Indonesia. 


Perpecahan yang tercipta baik karena praktik politik, rencana partai, maupun sebuah organisasi dalam pemilu kemudian patut diberikan sebuah solusi. Strategi yang mungkin bisa diterapkan pemerintah dalam mencegah kelanjutan dari konflik pada pesta demokrasi ini dapat dilakukan dengan cara mediasi, memberi edukasi, serta sanksi yang dapat dibuat untuk menghukum para provokator dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. 








DAFTAR PUSTAKA 

Kusman. (19 Juni 2021), STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK SOSIAL TERHADAP PESTA DEMOKRASI DI KABUPATEN BULUKUMBA. Diakses pada 20 Januari 2023 melalui

https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/17976-Full_Text.pdf 


Laporan Praktikum Pembuatan Tempe

Oleh: Alif Sulthan (3) Donanda Septian Putra (12) Ikhlas Hanif Nitisara (17) Muhammad Ikhwan Rizqi (25) Muhammad Nur Fauzan (26) Nurcahyo Ba...